Kanal

Pro-Kontra

Populer

Kirim Tulisan

Ilusi Negara Agraris

KATARSIS.ID – Waktu kecil, sepulang sekolah, saya sering diajak bapak pergi ke sawah. Kebetulan keluarga kami mempunyai sebidang tanah dan menyewa tiga bidang tanah lainnya milik sanak saudara. Biaya sewa lahan sekira 6 juta per tahun, tergantung luas dan akses ke jalan utama. Karena Kabupaten Karanganyar dikenal sebagai bumi INTAN PARI (Industri, Pertanian, dan Pariwisata), maka banyak tetangga yang memutuskan menjadi buruh tani di desa.

Sampai sekarang, saya masih mengingat proses penggarapan sawah mulai dari menyemai benih, menanam padi, memupuk, penyiangan, hingga panen.

Di desa, petani biasanya menjual hasil panen ke tengkulak dan sisanya untuk persediaan bahan baku untuk 3 bulan ke depan (musim panen selanjutnya). Tengkulak biasa menawarkan harga berkisar 10 sampai 20 juta tergantung kualitas padi.

Demikian yang menjadikan saya kuliah mengambil jurusan ekonomi pertanian. Berharap mampu menganalisis permasalahan petani yang dianggap kuno dan tidak menjanjikan. Setelah itu, saya menghitung total biaya produksi dan membandingkan dengan hasil panen.


Ibarat arisan, petani sawah hanya mendapatkan untung sekian persen dari total produksi yang dikeluarkan untuk membeli benih, pupuk, irigrasi, biaya untuk buruh tani, dan lain-lain. Belum lagi kalau ada wabah hama atau banjir yang merusak hasil pertanian. Di momen seperti itu, biasanya petani berutang untuk menutupi biaya produski.

Sempat saya menawari bapak saya untuk menyewakan lahan persawahan kepada petani lainnya. Selain bisa istirahat, secara kalkulasi juga lebih menguntungkan dan tanpa risiko. Namun kadang prinsip petani di desa tidak berpikir untung-rugi, asalkan bisa bekerja, dirugikan pun mereka ikhlas dan bersyukur.

Potensi

Selain disebut sebagai negara kemaritiman, Indonesia juga dikenal sebagai negara agraris, dimana sebagian besar penduduknya bekerja di sektor pertanian. Sektor pertanian dianggap memliki peran penting dalam meningkatkan perekonomian dan memenuhi kebutuhan pangan nasional.

Saat ini, Indonesia menjadi negara agraris tropis terbesar di dunia setelah Brazil. Dari 27 persen zona tropis di dunia, Indonesia memiliki 11 persen wilayah tropis. Bahkan Indonesia pernah melakukan swasembada beras pada tahun 1980, namun setelah itu tidak pernah lagi. Tragisnya, sekarang Indonesia malah impor beras dari Thailand dan Vietnam sebagai upaya kerja sama bilateral di bidang agrikultur.

Untuk meningkatkan produktivitas pertanian, pemerintah menggerakan kaum milenial untuk terjun menjadi petani. Upaya yang dilakukan Kementerian Pertanian dengan membuat 67 Duta Petani Milenial (DPM) dan Duta Petani Andalan (DPA) dari sejumlah provinsi di Indonesia.

Di masa pandemi Covid-19 saat ini, sektor pertanian berperan penting dalam pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat untuk menjaga imunitas tubuh.

Keikutsertaan dalam pasar bebas dengan berbagai negara harusnya bisa dimanfaatkan untuk ekspor produk pertanian. Mengaplikasikan peran digital dalam memproduksi dan memasarkan hasil panen. Jika lebih serius menekuni dunia pertanian, potensi besar Indonesia menjadi negara agraris akan mudah diwujudkan.

Tulisan ini sepenuhnya tanggung jawab penulisnya. Tak sependapat dengan tulisan ini? Silahkan tulis pendapat kamu di sini

Tulisan ini sepenuhnya tanggungjawab penulisnya. Redaksi Katarsis.id tidak memiliki tanggungjawab apapun atas hal-hal yang dapat ditimbulkan tulisan tersebut, namun setiap orang bisa membuat aduan ke redaksi@katarsis.id yang akan ditindaklanjuti sebaik mungkin.

Ingin Jadi Penulis, silahkan bergabung di sini.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

joko yuliyanto
joko yuliyanto
Penggagas Komunitas Seniman NU. Penulis buku dan naskah drama. Aktif menulis opini di media daring dan luring.

Artikel Terkait