Kanal

Pro-Kontra

Populer

Kirim Tulisan

Mengapa Riset di Indonesia ‘Mandul’? Belajar dari Thomas Edison-GE

SERUJI.CO.ID – Mengapa riset di perguruan tinggi kita mandul? Mengapa hanya menghasilkan dokumen  di rak-rak perpustakaan atau link internet yang hanya dibaca secara terpaksa oleh para mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi? Mengapa hasil risetnya tidak bisa dinikmati masyarakat luas? Mengapa anggaran penelitian kita kecil?

Ini adalah daftar pertanyaan menarik seputar riset dan hasil-hasilnya. Paling tidak ada lima penjelasan untuk pertanyaan-pertanyaan di atas.

Riset Mengandung Angka Finansial

Penjelasan pertama, riset itu membutuhkan sumber daya antara lain berupa keahlian, waktu, fasilitas (laboratorium, sumber pustaka, dll), dan sebagainya. Semuanya mengandung angka finansial

Segala sesuatu yang membutuhkan sumber daya finansial tidak akan bisa berjalan secara berkelanjutan kecuali bisa terjadi putaran. Uang kembali menjadi uang yang terus berputar.


Gambaran sederhana, sebuah warung makanan di kampung akan bisa hidup berkelanjutan jika sumber daya berupa tenaga pemiliknya, uang yang dipakai untuk membeli kompor dan segala fasilitas warung, maupun bahan baku bisa kembali dari penjualan makanan. Kembali  dengan nilai lebih besar. Output lebih besar dari pada input. Sebagian dari hasil yang lebih besar itu kemudian kembali dibelikan sumber daya bahan dan tenaga untuk menghasilkan makanan yang siap dijual lagi dan menghasilkan lagi

Selisih antara output dengan seluruh sumber daya input inilah yang menarik bagi pemilik warung yang menjadikan yang bersangkutan akan senang untuk terus menerus menjalankan warungnya sampai kapan pun Sebaliknya, jika selisihnya justru negatif, input lebih besar dari output, maka si pemilik mungkin masih bisa bertahan beberapa waktu. Tetapi jika selisih minus itu terjadi lama maka yang bersangkutan juga tidak akan kuat dan menutup warungnya

Demikian juga riset. Riset yang membutuhkan sumber daya bernilai finansial tetapi tidak bisa mendatangkan hasil secara finansial lama-lama tidak akan dilakukan lagi oleh perisetnya. Tentu saja ada perbedaan rentang waktu antara warung makanan dengan riset. Bila jarak antara input dengan output warung hanya hitungan jam atau hari. Untuk riset jaraknya bisa panjang bertahun-tahun bahkan lintas dekade atau lintas abad. Tetapi pendek atau panjang semuanya bisa dihitung secara matematika finansial.

Tulisan ini sepenuhnya tanggung jawab penulisnya. Tak sependapat dengan tulisan ini? Silahkan tulis pendapat kamu di sini

Tulisan ini sepenuhnya tanggungjawab penulisnya. Redaksi Katarsis.id tidak memiliki tanggungjawab apapun atas hal-hal yang dapat ditimbulkan tulisan tersebut, namun setiap orang bisa membuat aduan ke redaksi@katarsis.id yang akan ditindaklanjuti sebaik mungkin.

Ingin Jadi Penulis, silahkan bergabung di sini.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Iman Supriyono
Iman Supriyono
SNF Consulting

Artikel Terkait

close