Kanal

Pro-Kontra

Populer

Kirim Tulisan

Membangun Kembali Budaya Bahari

SERUJI.CO.IDDeformasi kehidupan berbangsa dan bernegara selama 20 tahun reformasi disebabkan karena pembangunan nasional dirumuskan bukan sebagai bagian dari pembangunan kebudayaan nasional. Pembangunan telah dirumuskan secara teknokratik hanya sebagai upaya meningkatkan produksi dan konsumsi material belaka. Padahal pembangunan seharusnya dirumuskan sebagai upaya perluasan kemerdekaan (development as freedom) seperti dirumuskan Amartya Sen.

Pembangunan sebagai strategi budaya akan kuat dan mengakar jika dipijakkan pada fitrah bangsa yang membangun. Untuk Indonesia, fitrah terpenting yang membedakan bangsa ini dari bangsa-bangsa lainnya adalah kebahariannnya.

Negeri ini memiliki sejarah panjang kebaharian yang gemilang, sampai penjajah datang ke negeri ini dengan memaksakan satu budaya baru yang asing: budaya benua yang ekstraktif, eksploitatif, feodal diskriminatif dan menjajah. Padahal budaya bahari adalah budaya yang kreatif, additiv, egaliter dan memerdekakan.

Penjajah meninggalkan perangkat pelanggengan penjajahan melalui persekolahan. Persekolahan tidak pernah dirancang untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Persekolahan adalah instrumen teknokratik untuk menyediakan tenaga kerja trampil. Tidak kurang tidak lebih.

Penjajah meninggalkan perangkat pelanggengan penjajahan melalui persekolahan. Persekolahan tidak pernah dirancang untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.


Ki Hadjar Dewantara sejak awal melihat pendidikan sebagai upaya membangun jiwa merdeka, sebagai syarat budaya bagi bangsa yang merdeka. Sementara itu persekolahan terlalu terobsesi dengan mutu berbasis standard, lalu secara sengaja menelantarkan relevansi. Di banyak sekolah warga muda mungkin belajar banyak kecuali menjadi diri mereka sendiri.

Bahwa fitrah negeri ini adalah negara kepulauan, lalu kemaritiman sebagai default geostrategy secara tersistem terbengkalai oleh pendidikan yang melupakan relevansi. Persatuan Indonesia tidak mungkin dibayangkan tanpa kemaritiman sehingga Djoeanda 1957 mendeklarasikan Indonesia sebagai archipelagic country. Jika kemaritiman adalah default geostrategy, maka kebaharian adalah default cultural strategy. Tidak bisa lain.

Menteng, 26/11/2018

Tulisan ini sepenuhnya tanggung jawab penulisnya. Tak sependapat dengan tulisan ini? Silahkan tulis pendapat kamu di sini

Tulisan ini sepenuhnya tanggungjawab penulisnya. Redaksi Katarsis.id tidak memiliki tanggungjawab apapun atas hal-hal yang dapat ditimbulkan tulisan tersebut, namun setiap orang bisa membuat aduan ke redaksi@katarsis.id yang akan ditindaklanjuti sebaik mungkin.

Ingin Jadi Penulis, silahkan bergabung di sini.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Prof. Daniel M. Rosyid
Prof. Daniel M. Rosyid
Guru Besar Fakultas Teknologi Kelautan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.

Artikel Terkait

close